Assalamualaikum para penggila sastra.
Pada pos kali ini, saya ingin
berbagi tentang sebuah novel berjudul “Bidadari Kirmidzi” yang berhasil membuat
saya sadar akan kekuatan cinta.
Memang tidak ada yang bisa menebak tentang cinta. Kepada siapa, kapan, dimana,
dan bagaimana caranya. Apakah happy ending atau justru sad ending.
Tugas kita hanya memperjuangkannya, tapi hasil akhirnya benar-benar murni
bersumber dari Sang Maha Cinta. Kita simak resensinya yuk!
Suyatna Pamungkas menulis sebuah
novel berjudul “Bidadari Kirmizi” yang diterbitkan oleh Diva Press pada Juni
2013. “Bidadari Kirmizi” bercerita tentang gadis cantik bernama Nayla yang
sangat suka memakai kerudung berwarna merah kirmizi. Namun, perjalanan hidup Nayla tak secantik
fisiknya. Setelah 10 tahun hidup di Alexandria, Kairo dan menjadi ulusan
terbaik Al-Azhar, Nayla pulang ke Indonesia. Dan disinilah penderitaannya
dimulai.
Nayla
Syifa Saraswati. Lulusan terbaik Al-Azhar ini harus mengalami jalan hidup yang
tidak mudah. Sejak ia memutuskkan untuk kembali ke Indonesia, masalah mulai
berdatangan. Dipertemukannya Nayla dengan Fido membuat cerita SMA mereka
kembali terkuak, Nayla iri dengan teman-tean SMAnya yang sudah sukses,
sedangkan ia yang lulusan terbaik AL-Azhar belum bisa apa-apa. Belum lagi ia harus
dilanda sakit sebelum pernikahannya dengan Arkan. Fido mencintai Nayla, namun
apa mau dikata jika Nayla telah menikah dengan Arkan. Tapi apakah Arkan bisa
bertahan dengan kondisi Nayla yang semakin parah? Siapakah yang tetap bisa
mendampingi Nayla melewati masa-masa sulitnya terkena penyakit leukimia? Arkan
atau Fido? Atau malah tidak keduanya.
Bahasa
yang digunakan oleh Suyatna Pamungkas sangat mudah dipahami dan sangat terlihat
kepiawaian penulis dalam merangkai kata-kata yang penuh haru dan menyentuh.
Kekurangan buku ini terletak pada judul per bab kebanyakan menggunakan bahasa
asing tanpa ada terjemahan dalam bahasa Indonesia.
“Bidadari
Kirmizi” merupakan novel yang mengingatkan kita tentang perjuangan cinta. Saat
kita mencintai seseorang,
kita tidak hanya mencintai kelebihannya, tetapi juga harus siap menerima segala kekurangannya. Ketulusan
cinta tidak bergantung pada kondisi fisik orang tersebut. Cinta bukan karena cantik, bukan kaya, bukan tampan,
bukan mapan. Jika sudah cinta tak pernah ada alasan. Ya sudah! Perjuangkan
tanpa ada keluhan.
Semoga bermanfaat dan happy reading!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar