Selasa, 03 Februari 2015

Bidadari Kirmidzi



Assalamualaikum para penggila sastra. 
Pada pos kali ini, saya ingin berbagi tentang sebuah novel berjudul “Bidadari Kirmidzi” yang berhasil membuat saya sadar akan kekuatan cinta. Memang tidak ada yang bisa menebak tentang cinta. Kepada siapa, kapan, dimana, dan bagaimana caranya. Apakah happy ending atau justru sad ending. Tugas kita hanya memperjuangkannya, tapi hasil akhirnya benar-benar murni bersumber dari Sang Maha Cinta. Kita simak resensinya yuk!
 Suyatna Pamungkas menulis sebuah novel berjudul “Bidadari Kirmizi” yang diterbitkan oleh Diva Press pada Juni 2013. “Bidadari Kirmizi” bercerita tentang gadis cantik bernama Nayla yang sangat suka memakai kerudung berwarna merah kirmizi. Namun, perjalanan hidup Nayla tak secantik fisiknya. Setelah 10 tahun hidup di Alexandria, Kairo dan menjadi ulusan terbaik Al-Azhar, Nayla pulang ke Indonesia. Dan disinilah penderitaannya dimulai.
                Nayla Syifa Saraswati. Lulusan terbaik Al-Azhar ini harus mengalami jalan hidup yang tidak mudah. Sejak ia memutuskkan untuk kembali ke Indonesia, masalah mulai berdatangan. Dipertemukannya Nayla dengan Fido membuat cerita SMA mereka kembali terkuak, Nayla iri dengan teman-tean SMAnya yang sudah sukses, sedangkan ia yang lulusan terbaik AL-Azhar belum bisa apa-apa. Belum lagi ia harus dilanda sakit sebelum pernikahannya dengan Arkan. Fido mencintai Nayla, namun apa mau dikata jika Nayla telah menikah dengan Arkan. Tapi apakah Arkan bisa bertahan dengan kondisi Nayla yang semakin parah? Siapakah yang tetap bisa mendampingi Nayla melewati masa-masa sulitnya terkena penyakit leukimia? Arkan atau Fido? Atau malah tidak keduanya.
                Bahasa yang digunakan oleh Suyatna Pamungkas sangat mudah dipahami dan sangat terlihat kepiawaian penulis dalam merangkai kata-kata yang penuh haru dan menyentuh. Kekurangan buku ini terletak pada judul per bab kebanyakan menggunakan bahasa asing tanpa ada terjemahan dalam bahasa Indonesia.
                “Bidadari Kirmizi” merupakan novel yang mengingatkan kita tentang perjuangan cinta. Saat kita mencintai seseorang, kita tidak hanya mencintai kelebihannya, tetapi juga harus siap menerima segala kekurangannya. Ketulusan cinta tidak bergantung pada kondisi fisik orang tersebut. Cinta bukan karena cantik, bukan kaya, bukan tampan, bukan mapan. Jika sudah cinta tak pernah ada alasan. Ya sudah! Perjuangkan tanpa ada keluhan.

Semoga bermanfaat dan happy reading!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar