Selasa, 03 Februari 2015

Apapun Realitasnya, Itu Menurut Allah


Assalamualaikum Akhi wa Ukhti.
Semoga selalu dalam keadaan sehat dan mendapat ridho dari Allah SWT.
Kali ini, saya ingin berbagi kisah inspiratif yang semoga bisa memotivasi diri kita untuk menjadi lebih baik. saat kita dihadapkan dengan takdir yang sama sekali tidak kita inginkan, apakah kita harus mengeluh? apa harus putus asa dan mencaci takdir itu? Astaghfirullah. Luangkan waktu sejenak untuk membaca sepenggal hikmah dari cerita berikut ini.

          Suatu kisah yang diungkapkan oleh Frank Slazak, seorang guru yang sempat menjadi salah satu nominator untuk mengikuti penerbangan ke luar angkasa bersama pesawat ulang alik Challenger NASA. Dia menceritakan kisahnya sebagaimana berikut:
        “semua dimulai dari impianku. Aku ingin menjadi astronot. Aku ingin terbang ke luar angkasa, tetapi aku tidak memiliki sesuatu yang tepat. Aku tidak memiliki gelar. Aku bukan seorang pilot. Namun, sesuatu pun terjadi. Gedung Putih mengumumkan mencari warga biasa untuk ikut dalam penerbangan 51-L pesawat ulang alik Challenger. Warga yang dicari itu adalah seorang guru. Aku warga biasa, dan aku seorang guru. Hari itu juga aku mengirimkan surat lamaran ke Washington. Setiap hari aku berlari ke kotak pos. Akhirnya, datanglah amplop resmi berlogo NASA. Doaku terkabulkan. Aku lolos penyisihan pertama. Hal ini benar-benar terjadi padaku.
        “selama beberapa minggu berikutnya, perwujudan impianku semakin dekat saat NASA mengadakan tes fisik dan mental. Begitu tes selesai, aku menunggu dan berdoa lagi. Aku tahu, aku semakin dekat dengan impianku. Beberapa waktu kemudian, aku menerima panggilan untuk mengikuti program latihan astronot khusus di Kennedy Space Center. Dari 43.000 pelamar, kemudian 10.000 orang, dan kini aku menjadi bagian dari 100 orang yang berkumpul untuk penilaian akhir. Ada simulator, uji klaustrofobi, latihan ketangkasan, percobaan mabuk udara. Siapakah di antara kami yang bisa melewati ujian akhir ini? Tuhan, biarlah aku yang terpilih, begitu aku berdoa. Lalu tibalah berita yang menghancurkan itu. NASA memiih orang lain yaitu Christina McAufliffe. Aku kalah. Impian hidupku hancur. Aku mengalami depresi. Rasa percaya diriku lenyap, dan amarah menggantikan kebahagiaanku. Aku mempertanyakan semuanya. Kenapa Tuhan? Kenapa bukan aku? Bagian diriku yang mana yang kurang? Mengapa aku diperlakukan secara kejam?
        Aku berpaling pada ayahku. Katanya: “semua terjadi karena suatu alasan.” Selasa, 28 Februari 1986, aku berkumpul bersama teman-teman untuk melihat peluncuran Challenger. Saat pesawat melewati menara landasan pacu, aku menantang impianku untuk terakhir kali. Tuhan, aku bersedia melakukan apa saja agar berada di dalam pesawat itu. Kenapa bukan aku? Tujuh puluh tiga detik kemudian, Tuhan menjawab semua pertanyaanku dan menghapus semua keraguanku saat Challenger meledak, dan menewaskan semua penumpang. Aku teringat kata-kata ayahku: “semua terjadi karena suatu alasan.”  Aku tidak terpilih dalam penerbangan itu, walaupun aku sangat menginginkannya karena Tuhan memiliki alasan lain untuk kehadiranku di bumi ini.”

           Bagaimana Saudaraku? masihkah akan mengeluh dengan takdir yang ditentukan oleh Allah? Dibalik setiap hal yang diberikan Allah kepada kita, pasti ada hikmah yang bisa kita petik dan bahkan bisa kita bagi buat sesama. Untuk itu, stop complaining ya guys. Jalani dan syukuri apa yang dianugerahkan Allah untuk kita. Takdir kita sudah tergariskan secara sempurna dan percayalah bahwa Tuhan kita, Allah, sangat menyayangi kita, sehingga tidak akan mungkin menyengsarakan hambanya. Tetap semangat menjalani hidup ini saudaraku.
           Semoga bermanfaat dan happy reading!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar